·
Perspektif
Global Dengan Politik
Secara politik, negara dengan tujuan dan
lembaga-lembaganya, dari vvaktu ke wakt mengalami perkembangan. Negara Republik
Indonesia pada saat diproklamasikan, bar mendapat pengakuan dari negara Iain
secara terbatas. Akibatnya, hubungan denga negara-negara yang ada di dunia ini
juga masih terbatas. Demikian pula mengenai tujua dan lembaga-lembaga yang
menyelenggarakannya juga masih terbatas.
Pada
saat-saat avval, perjuangan politik menjadi prioritas. Pengakuan dan hubunga
politik, menjadi perjuangan utama. Hal ini tentu saja menjadi modal utama untu
mengembangkan diri lebih jauh di tengah-tengah dunia internasional.
Keberhasila Konferensi Asia Afrika, pen.bentukan dan
kegiatan Negara-negara Non-Blok yan menempatkan Indonesia sebagai salah satu
negara pclopornya, dapat meningkatka Pengakuan negara lain terhadap kedudukan
Indonesia. Hal itu semua mcrupaka perjuangan politik. Kerja sama regional ASEAN
dengan terbenluknya Negara-negar ASEAN ini juga merupakan tahap lain dalam
perjuangan politik. Saat ini Republil Indonesia sudah diperhitungkan
negara-negara lain dalam peraturan politik, termasul Negara-negara Adikuasa.
Secara global, Indonesia memiliki kedudukan terhorma dalam bidang politik,
khususnya sebagai negara Non-Blok. Pembangunan politik d dunia internasional
pada tingkat global, telah membuahkan hasil.
Dengan berpegang pada politik luar negeri yang bebas
aktif, Indonesia terjun ki b'erbagai kegiatan penyelesaian pertikaian politik
seperti di Kamboja, Filipina, Bosnia Palestina Israel, dan Iain-lain. Kegiatan
tersebut lebih meningkatkan kedudukai Indonesia di bidang politik, terutama
politik luar negeri. Hal tersebut menjadi landasai kerja sama di bidang
ekonomi. Kepercayaan negara lain termasuk negara Adikuasa d bidang politik,
lebih membuka jalan kerja sama di bidang ekonomi..Bantuan ekonom menjadi
terbuka. Dewasa ini, pembangunan Indonesia lebih menitikberatkan padc bidang,
ekonomi.
Stabilitas
dan kemajuan politik Indonesia, khususnya politik luar negeri berpengaruh terhadap
kondisi politik global. Hal ini dapat kita hayati tentang dampak Konferensi
Asia Afrika. Pimpinan dan pengaruh Indonesia dalam gerakan Non-Blok (GNB)
terhadap kebaagkftan di Afrika dan Amerika Latin atau Negara-negara Selatan
pada umumnya. Kebangkitan Negara-negara Selatan, menumbuhkan perhatian
Negara-negara Utara. Negara-negara yang terakhir ini tidak lagi mengabaikan
negara-negara
.
Peranan dan keberhasilan
politik negera Indonesia telah bergenia
secara global, baik di Negara-negara Selatan npun di Negara-negara Utara,
termasuk negara Adikuasa.
Negara
Republik Indonesia sebagai warga dunia, tidak dapat melepaskan diri pengaruh
perkembangan di negara lain, khususnya di negara yang telah maju, lebih r.ns
lagi di negara-negara Adikuasa. Perkembangan di Uni Soviet, Republik Rakyat
i.i, Jennan, Jepang, dan seterusnya, selalu ada pengaruh terhadap kehidupan
politik, isusnya politik luar negeri Indonesia. Paling tidak, Indonesia harus
mperhitunr;kan kecenderungan dan peluang yang akan terjadi akibat perubahan di
ma lain itu.
Konsep glasnots (keterbukaan) dan perestroika
(pembaruan) yang digagaskan menjadi landasan terjadinya pendekatan antarnegara
Adikuasa, yaitu
i
Soviet dan Amerika Serikat. Gerakan ini menjadi pokok pangkal berakhirnya
perang dingin di antara negara-negara yang bersangkutan. Kenyataan itu pula
membawa dampak yang luas terhadap perubahan peta politik dunia, terutama yang
dialami oleh negara-negara Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Uni Soviet
yang klaimnya atas status Adikuasa, yang semata-mata didasarkan atas kekuasaan
militer, tanpa didukung oleh perekonomian yang kuat (Toffler, 1990: 221), diperkuat
oleh pengaruh pengembangan glasnots sertaperestroika dari Gorbachev, negara
Adikuasa tersebut lenyap dari peta dunia. Negara Adikuasa yang pecah menjadi
negara-negara kecil yang sebagian berdiri sendiri, dan tetap menjalin federasi
dengan Rusia. Sampai saat ini pergolakan di bekas
Suatu pelajaran berharga yang dapat disimak dari
perubahan drastis Uni Soviet njudi negara-negara kecil yang berdiri sendiri
tanpa persiapan dan kesiapan yang Bang, stabilitas, serta ketahanan negaranya
belum tercipta. Kerawanan politik, miomi dan sosial sukar teratasi. Sampai saat
ini, suasana kerawanan tersebut masih judi. Suasana dan kondisi psikologis yang
negatif, sangat membekas pada sebagian knr masyarakat, terutama mereka yang
lanjut usia. Perubahan peta politik pasca perang dingin yang dampak negatifnya
masih belum ,i sampai saat ini, dialami oleh bekas negara Yugoslavia.
Ketegangan antaretnis yang
Runtuhnya Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat
dengan Jerman Timur, menjadi landasan perubahan peta politik di Jerman. Jerman
Timur yang semula termasuk Blok Timur atau Blok Komunis, rrieleburkan diri ke
dalam federasi Jerman. Peristiwa ini juga menunjukkan kemenangan demokrasi atas
komunis. Hal seperti itu juga dialami oleh Bulgaria dan Polandia.
Perubahan peta politik seperti yang dialami
negara-negara Eropa Timur dan bekas Yugoslavia seperti dilukiskan tadi, membawa
dampak luas pada tatanan global yang tidak hanya menyangkut bidang politik,
melainkan juga bidang ekonomi, sosial, dan IPTEK. Mau tidak mau kenyataan itu
berpengaruh terhadap wawasan politik Indonesia. Perspektif global dari
perubahan peta politik yang digambarkan di atas, membawa dampak terhadap
berbagai aspek hubungah luar negeri Indonesia.
Perubahan
peta politik global sesungguhnya telah dimuiai sejak berakhirnya Perang Dunia
II. Mulai saat itu banyak negara jajahan, termasuk di dalamnya Indonesia
melepaskan diri dari negara penjajah. Negara-negara tersebut yang secara
politik sepenuhnya diatur oleh penjajah, setelah berakhirnya PD II tersebut
dituntut untuk mengatur politiknya sendiri. Setelah berakhir perang dingin
perubahan peta politik itu makin menonjol.
·
Perspektif
global dan visi ekonomi
Menuruh H.W. Arndt dan Gerardo P.
Sicat (1991: 3). Ilmu ekonomi adalah suatu ilmiah yang mengkaji bagaimana orang
dan kelompok-kelompok masyarakat menentukan pilihan. Manusia mempunyai
keinginan yang tidak terbatas. Untuk memuaskan bermacam-macam keinginan yang
tidak terbatas tersebut, tersedia sumber daya yang dapat digunakan. Berbagai
sumber daya ini tidak tersedia dengan bebas. Karenannya, sumber daya ini langka
dan mempunyai berbagai kegunaan alternative. Pilihan penggunaan dapat terjadi
antara penggunaan sekarang (hari ini) dan penggunaan hari esok (masa depan).
Berdasarkan
konsep tadi pembahasan ilmu ekonomi menyangkut berbagai aspek yang meliputi:
a. Menentukan pilihan
b. Keinginan yang tidak terbatas
c. Persediaan sumber daya terbatas bahkan
ada yang langka
d. Kegunaan alternative sumber daya
e. Penggunaan hari ini dan hari esok
Dari
aspek-aspek yang telah dikemukakan tadi jelas bahwa perspektif ekonomi terkait
dengan waktu, hari ini dan hari esok. Sedangkan apa yang diperspektifkan
terutama berkenaan dengan keinginan yang cenderung tidak terbatas, persediaan
sumber daya itu terbatas bahkan langka, dan adanya penggunaan alternative
sumber daya.
Perspektif
ke hari esok atau masa yang akan datang, terkait luas dengan pertumbuhan
penduduk, kemajuan dan penerapan IPTEK dalam proses produksi serta distribusi,
kebutuhan yang cenderung tidak terbatas kuantitasnya dan akhirnya persediaan
sumber daya yang terbatasi bahkan langka. Sedangkan penggunaan sumber daya alternative,
sangat berkaitan dengan IPTEK dan kecenderungan kebudayaan.
Dari
perspektif kependudukan pada abad 7 Juli 1986, menurut perhitungan lembaga
kependudukan dunia telah terjadi peristiwa penting dengan tercapainya angka
lima Miliar jumlah penduduk dunia. Selanjutnya, berdasarkan lembaga yang sama,
penduduk dunia bertambah satu juta tiap empat atau lima hari. Berdasarkan
perkiraan lebih lanjut, pada tahun 2000, jumlah penduduk dunia ini akan
mencapai 8 Miliar (Baruey, 1977-11). Angka-angka itu menunjukkan betapa
cepatnya pertumbuhan penduduk dunia. Hal tersebut menjadi landasan perhitungan
pertumbuhan kebutuhan manusia. Ketidak terbatasan kebutuhan itu, tidak
semata-mata didasari oleh keinginan yang tidak terbatas namun juga dilandasi
oleh pertumbuhan yang mau tidak mau harus dilayani oleh persediaan dan
peningkatan produksi.
Anda
telah mengetahui bahwa dari sekian jenis sumber daya, khususnya sumber daya
alam, ada yang dapat terbarukan (tumbuh-tumbuhan, hewan) dan yang tidak dapat
terbarukan (migas, batu-bara). Sumber daya yang sifatnya tidakterbarukan akan
habis sekali pakai sehingga persediaannya makin terbatas. Sedangkan di pihak
lain kebutuhan terus meningkat karena pertumbuhan penduduk, dan keinginan yang
cenderung tidak terbatas. Kesenjangan ini bukan bersifat local atau regional,
melainkan telah menjadi masalah global. Disini di tuntut “kiat-kiat” ekonomi
untuk menciptakan keseimbangan antara konsumsi di satu pihak, dan produksi di
lain pihak. Salah satu kiat itu bagaimana kemajuan dan penerapan IPTEK berupaya
mencari jalan keluar dari masalah tadi.
Pernyataan
David Turney (1972) bahwa, dilemma besar yang pokok saat ini yaitu bahwa
penduduk dunia telah sampai pada ketergantungan terhadap teknologi untuk
mempertahankan dan menompang kehidupan-kehidupan secara berkelanjutan. Namun
selanjutnya, penerapan praktis teknologi dan intervensinya dalam menunjang
kehidupan, cepat ataupun lambat akan merusak sumber daya alam. Dalam menghadapi
dilema yang demikian, kehutanan kita manusia menjadi tiga kali lipat, yaitu
pertama kita harus menguasai teknologi itu, kedua menstabilkan penduduk, dan
ketiga mengembangkan tatanan sosial yang mampu hidup produktif dan sejahtera
secara terpadu dengan mengekosistem yang seimbang. Coba anda hayati bahwa kita
tidak dapat melepaskan diri dari pemanfaatan teknologi atau luas lagi
pemanfaatan IPTEK. Namun juga anda amati dan hayati lingkungan sekitar yang
rusak serta terkuras oleh penerapan dan pemanfaatan IPTEK itu. Masalah ini
bukan lingkungan dan perekonomian yang hanya teradi secara local di tempat anda
saja, melainkan telah menjadi masalah global.
Dari
kutipan yang baru kita baca, itu dapat diketahui bahwa IPTEK bukan
segala-galanya. Pada akhirnya, masalah global tadi berbalik kepada kita.
Bagaiman kita mampu mengembangkan peranata sosial untuk mengendalikan IPTEK
tadi sesuai dengan atas keseimbangan dan kelestarian. Perubahan dan
pengembangan aspek-aspek yang bersifat fisik material saja, tidak memecah
masalah. Oleh karena itu wajib dikembalikan kepada manusia sendiri, terutama
akhlaknya, kesenjangan, kerusakan dan masalah-masalah yang terjadi dalam
kehidupan serta lingkungannya itu, harsus dikembalikan kepada manusia sendiri
terutama kepada akhlaknya tadi.
Menurut
pernyataan H.S.D. Cole (1973) kenyataan menunjukkan bahwa bukan hanya
pencemaran udara oleh debu, pencemaran oleh zat kimia, pencemaran suara,
pencemaran air dan tanah semata-mata, melainkan yang lebih penting adalah
pencemaran moral. Hal-hal yang bertentangan dan tidak diindahkannya peraturan
sebagai indicator dalam berbagai argumentasi kerusakan lingkungan yang menjadi
sasar pertanyaan kemajuan ekonomi dan teknik.
Pencemaran
moral dan penyimpangan-penyimpanagn dari aturan yang berlaku terhadap
pengembangan serta pemanfaatan lingkunga “seolah-olah” diabaikan oleh karena
itu H.S.D. Cole (1973) selanjutnya mengemukakan:
Kesinambungan
renaisanse, rasionalisme, kapitalisme dan pemujaan serta penganjungan ilmu
saja. Namun dewasa ini, keadaan yang demikian telah tercapai, apakah yang harus
dilakukan selanjutnya? Cobalah hidupkan kembali kearifan dan kecintaan terhadap
keindahan pada diri masing-masing serta disekitar kita. Hanyalah revolusi moral
bukan revolusi sosial atau politik atau juga teknik, hanyalah revolusi moral
yang dapat membimbng selama ini telah menghilang.
Dalam
kondisi global yang penuh dengan kesenjangan, masalah dan tantangan, baik
ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun lingkungan hidup, pengembangan dan
pembinaan akhlak menjadi kunci penyelamatan perspektif global ekonomi barupa perekonomian pasar bebas, beralihnya kawasan
ekonomi maju dari Atlantik ke Pasifik, dan kebangkitan ekonomi Asia Afrika,
kita bangsa Indonesia tidak akan kunjung rela. Penyiapan SDM generasi muda
Indonesia menghadapi abad XXI dengan arus globalnya, wajib dirintis sedini
mungkin. Sikap mental wiraswasta harus menjadi ciri SDM mendatang.
·
Perspektif global dari visi politik
Definisi ilmu politik
Ilmu politik mempelajari negara,
tujuan-tujuan negara dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan
tujuan-tujuan itu (Roger F. Soltau).
Dalam perspektif global, hubungan
suatu negara dengan negara-negara lain adalah hal yang pokok.
Jenis hubungan antar negara ditinjau
dari jangkauannya:
|
Jenis hubungan
|
Jangkauan
|
|
Regional
|
Antarbangsa atau antarnegara di
suatu kawasan (tetangga), misalnya di kawasan Asia Tenggara
|
|
Internasional
|
Antarbangsa atau antarnegara di
berbagai belahan dunia
|
|
Global
|
Antarsemuabangsa atau
antarsemuanegara di dunia ini
|
Politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif yang menjadi landasan kerja
sama di bidang ekonomi dengan negara-negara lain. Bebas, artinya bangsa Indonesia tidak memihak pada salah satu blok yang ada
di dunia. Jadi, bangsa Indonesia berhak bersahabat dengan negara mana pun asal
tanpa ada unsur ikatan tertentu. Bebas juga berarti bahwa bangsa Indonesia mempunyai cara sendiri dalam
menanggapi masalah internasional. Aktif berarti bahwa bangsa Indonesia secara aktif ikut mengusahakan
terwujudnya perdamaian dunia.
Stabilitas dan kemajuan politik
Indonesia, khususnya politik luar negeri, berpengaruh pada kondisi politik
global, contohnya dampak Konferensi Asia Afrika (KAA – yang menghasilkan Dasasila Bandung/Bandung
Declaration) dan Gerakan
Non-Blok (GNB – khususnya untuk mendukung perdamaian dunia).
Negara Republik Indonesia sebagai warga dunia, tidak dapat melepaskan diri dari
pengaruh perkembangan di negara-negara lain. Perkembangan di negara-negara lain
selalu berpengaruh terhadap kehidupan politik, khususnya politik luar negeri
Indonesia. Perubahan peta politik membawa dampak luas pada tatanan global di
bidang politik, ekonomi, sosial, dan IPTEK. Perspektif global dari perubahan
peta politik tersebut, membawa dampak pada berbagai aspek hubungan luar negeri
Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar